Membangun Babak Baru Hubungan Indonesia – Jepang

by admin

Oleh:

Tirta Nugraha Mursitama

Guru Besar Universitas Bina Nusantara


Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang bertemu PM Sanae Takaichi dan Kaisar Naruhito tanggal 29 – 31 Maret 2026. Sebuah kunjungan penting di tengah situasi yang tidak mudah bagi kedua negara secara domestik, regional maupun global. Kedua negara berharap memperkuat kemitraan strategis, mencari peluang kerja sama di berbagai sektor seperti investasi, perdagangan, energi, hingga memperkuat hubungan diplomatik yang saling menguntungkan.

Tulisan ini menawarkan alternatif pendekatan membangun babak baru hubungan Indonesia – Jepang yang lebih bernas di luar arus utama diplomasi yang dilakukan oleh negara (first track diplomacy) selama ini. Pendekatan ini mengedepankan peran aktif aktor non-negara (second track diplomacy) berbasis hubungan sosial yang berwujud jejaring transnasional antar aktor non-negara yang terdiri dari universitas, alumni dan perusahaan.


Memahami Jepang

Bagaimana kita memandang Jepang saat ini? Ada lima isu penting yang harus kita pahami secara kritis. Pertama, Jepang tidak bisa dilepaskan dari aliansi militer dan ekonomi dengan Amerika Serikat yang kini memperluas dengan upaya kerja sama mineral kritis. Jepang pun mulai lebih asertif di bawah kepemimpinan PM Sanae Takaichi dengan meneruskan kebijkan pendahulunya PM Sinzo Abe. Jepang meningkatkan anggaran kapabilitas militernya hingga 2% dari GDP.

Kedua, Jepang mengalami situasi kerentanan struktural terlepas masih menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke empat atau ke lima dunia dengan pertumbuhan ekspor yang menjanjikan di industri otomotif, transportasi, logistik dan semikonduktor. Namun, Jepang masih sangat tergantung impor minyak dari kawasan Timur Tengah yang mencapai 90%. Di tambah lagi, rasio utang publik terhadap GDP pun telah menyentuh 230%. Jepang belum terlepas dari resesi ekonomi berkepanjangan.

Ketiga, hubungan paradoksal dengan China. Satu sisi menjadi rival strategis di kawasan namun di sisi lain masih menjadi mitra dagang dan investasi terpenting. Jepang harus menyeimbangkan antara saling ketergantungan ekonomi dan ancaman strategis China yang bisa sewaktu-waktu meledak.

Keempat, Jepang terus melakukan pelibatan yang intensif dengan negara-negara ASEAN khususnya Indonesia. ASEAN telah menjadi penyangga kepentingan Jepang di kawasan sekaligus tujuan dagang dan investasi yang sedikit banyak menjadi penyeimbang dengan China. Secara geopolitik, ASEAN masih menjadi harapan untuk mempromosikan hubungan internasional berdasarkan aturan dan hukum internasional bagi Jepang.

Kelima, ancaman masyarakat yang menua bagi Jepang semakin nyata. Dari 128 juta penduduk Jepang, usia produktif hanya tinggal 60% sementara 30% sudah masuk kategori usia tua. Kekurangan tenaga kerja produktif di berbagai sektor industry tidak bisa dihindarkan lagi di tengah tingkat kesuburan yang terus menurun hingga 1,15 kelahiran per perempuan di tahuan 2024. Tidak cukup untuk mempertahankan populasi yang stabil. Secara makroekonomi akan berdampak pada berkurangnya basis pendapatan pajak, melonjaknya pengeluaran pensiun dan asuransi kesehatan untuk manula hingga semakin sulitnya ekonomi bertumbuh.

Kelima kondisi kontemporer Jepang ini dapat dimanfaatkan Indonesia. Mereka butuh mitra strategis penyeimbang China di kawasan Asia Tenggara dan sekaligus menyuplai kebutuhan tenaga kerja serta diversifikasi sumber daya strategis termasuk penguatan rantai pasok regional dan global.

Dengan tetap sebagai mitra aliansi Amerika Serikat maka sudah bisa diprediksikan hubungan dengan China tidak akan mudah. Jepang menyadari hal itu maka pilihan cerdasnya adalah tidak konfrontatif terhadap China dengan tetap melakukan hubungan ekonomi yang menguntungkan sembari berhati-hati tidak terseret dalam arus konflik Amerika Serikat – China yang bisa berdampak buruk bagi Jepang.

Indonesia bisa memainkan peran strategisnya di sini. Indonesia selalu di hati Jepang dengan menjadi saudara muda yang baik sejak tahun 1970an. Indonesia aktif melakukan perdagangan sumber daya alam ke Jepang dan menjadi tujuan investasi Jepang di industri otomotif, transportasi, elektronika dan optik, petrokimia, minyak dan gas serta belakangan di industri hijau termasuk energi baru terbarukan.

Berdasarkan realisasi investasi 2025, Jepang menjadi investor terbesar kelima di Indonesia dengan jumlah investasi USD 3,1 milyar di sektor manufaktur berteknologi tinggi dan infrastruktur. Memang masih kalah jauh bila dibandingkan China yang berjumlah USD7,5 milyar, itu pun belum digabung dengan Hongkong dan investasi China yang melewati Singapura atau negara lainnya yang bila dijumlah bisa lebih dari dua kali lipat besarnya. Hal itu yang menjadikan China, defakto, menjadi investor terbesar di negeri ini yang dominan di sektor hilirisasi nikel.

Jepang sadar betul posisi China di mata Indonesia. Walau sebagai saudara tua Jepang pernah merasa terluka dengan kekalahan diplomasi proyek kereta cepat Jakarta Bandung beberapa tahun lalu yang akhirnya jatuh ke China. Tetapi, Jepang memilih untuk tidak membesarkan kekecewaan itu. Tidak pula, terlalu asertif mempermasalahkan secara diplomatik berkepanjangan. Jepang memilih tetap menjaga hubungan baik (connectivity) dengan Indonesia karena masih percaya (trust). Ini modalitas yang penting dalam hubungan kedua negara karena Jepang mencoba memahami pilihan pragmatis Indonesia terhadap China walau akhirnya berujung problema bagi Indonesia.


Model Segitiga Hubungan Sosial

Secara geopolitik dan geoekonomi, Indonesia dan Jepang saling melengkapi. Jepang butuh tenaga kerja, sumber daya alam, pasokan energi hingga pangsa pasar yang luas. Indonesia membutuhkan investasi, pendidikan berkualitas, teknologi dan inovasi. Namun, pendekatan baru diperlukan agar hubungan kedua bangsa semakin bermakna, konkrit dan bermanfaat.

Dalam konteks tersebut, penulis mengembangkan model segitiga hubungan berbasis sosial Indonesia dan Jepang. Argumentasi utamanya adalah bahwa diplomasi yang tersentral pada negara tidak cukup mampu menyelesaikan permasalahan hubungan kedua negara yang sangat kompleks.

Model segitiga merujuk kepada hubungan antara tiga aktor utama yang didasarkan tiga modalitas penting yang ketiganya saling terkait dan memperkuat. Pertama, modalitas konektivitas antar manusia dengan membangun jejaring, kepercayaan dan mobilitas sumber daya manusia. Aktor utamanya adalah alumni dari pendidikan tinggi atau pun pelatihan di Jepang dan asosiasi alumni. Para alumni secara individu atau pun terlembaga menjadi jembatan kapital sosial antara bangsa Jepang dan Indonesia.

Revitalisasi peran alumni Jepang dalam kehidupan politik, hukum, ekonomi dan sosial di Indonesia harus diperkuat. Sebagai komunitas epistemik, peran alumni dalam perumusan dan pengambilan kebijakan publik maupun di sektor swasta, memberikan masukan kepada pemerintah, menyuarakan keresahan masyarakat sebagai umpan balik kebijakan pemerintah, menjadi sangat penting. Peran strategis lain yang bisa dilakukan adalah sirkulasi talenta sumber daya manusia dari Indonesia ke Jepang mengisi kekurangan tenaga kerja produktif di berbagai industri.

Kedua, modalitas pertukaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendorong inovasi dilakukan oleh universitas, pusat penelitian dan kajian. Universitas berperan penting sebagai penggerak produksi ilmu pengetahuan dan mempersiapkan talenta sumber daya manusia berkualitas. Beberapa contoh program yang dapat dilakukan antara lain memperluas program ganda antar universitas Jepang dan Indonesia, mobilitas mahasiswa antar negara tanpa hambatan, penyediaan platform pendidikan digital, memperkuat keterkaitan antara universitas dan industri sehingga suplai talenta sesuai kebutuhan industri dapat terpenuhi hingga pengembangan ekosistem bahasa dan sosial budaya untuk mendorong integrasi sosial kedua bangsa.

Ketiga, modalitas integrasi ekonomi digital untuk mempercepat pertumbuhan dilakukan oleh perusahaan dengan investasi dan penyediaan lapangan kerja. Perusahaan tidak lagi sekedar menyediakan modal dan investasi secara konvensional di industri tertentu. Namun, perusahaan harus mampu mengembangkan ekosistem terintegrasi dan mendorong transformasi digital kedua negara yang pada akhirnya menciptakan secara bersama (co-create) talenta sumber daya manusia yang berkualitas.

Hal yang tidak kalah pentingnya, perusahaan harus berperan lebih aktif sebagai aktor diplomasi bisnis dengan menciptakan pertumbuhan berdampak di tingkat masyarakat sekaligus memastikan alih teknologi dilakukan secara efektif, bukan sekedar jargon. Ketiga aktor non-negara ini bersinergi secara efektif untuk meraih capaian strategis dari model segitiga hubungan sosial Indonesia dan Jepang ini.

Pemerintah hadir sebagai pendukung, fasilitator dan regulator dari sisi kebijakan dan regulasi, pendanaan, pemberian insentif dan memberikan payung diplomatik antara kedua bangsa agar proses interaksi antar aktor non-negara berjalan dengan lancar. Di dalam model ini, self-enforcing system berlaku melalui mekanisme dan kesepakatan dimana kepatuhan dicapai secara internal dikarenakan kesesuaian insentif di antara para aktor yang terlibat dan bukan karena adanya unsur paksaan dari pihak eksternal.

Model ini memiliki keunggulan sekaligus menjadi kekhasannya yaitu tidak tergantung mekanisme formal antar negara, mengedepankan mekanisme bottom-up secara proaktif. Para aktor non-negara lebih fleksibel, melakukan banyak terobosan, beradaptasi dengan cepat dan lincah mengisi ruang-ruang yang negara tidak bisa masuk selama ini.

Pada akhirnya, model segitiga hubungan sosial Indonesia dan Jepang ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah kedua belah pihak dengan pendekatan berbeda sekaligus melengkapi pendekatan yang telah ada. Pertanyaannya kemudian, berani kah kita mengambil langkah pendekatan baru di luar arus utama yang sedang mengalami kejumudan ini.

sumber : investor.id

You may also like

Leave a Comment