This research focuses on how local partner learn knowledge from foreign partner in Japanese joint venture in emerging economies context. Contribution of this research is as follows. First, by distinguishing the type and characteristics of each process, this typology enhances our understanding about JV as useful organizational learning mechanism, particularly in Japanese joint venture in emerging economies and about the source of firm’s heterogeneity underlying learning process. Second, this extensive in-depth case study provides the clear evidences of the importance of internal learning capability process to improve technological capability, absorptive capacity, and relational rents generated from resource sharing mechanism. Third, this study, to best knowledge, is a pioneer research in Indonesia since technological issues have been paid little attention from scholars. >> more details

Issue is the third issue we have consistently published from December 2012. In this issue, the key topics examined by the writers focuses on the domestic politics of industrialization and the changing of East Asia Geopolitics. The current condition of East Asia geopolitics cannot be separated from the dynamics of political and economic issues faced in the domestic level byeach country in East Asia particularly in ASEAN. In this issue, we focus on three main countries in East Asia and how they affect the dynamic of Southeast Asia geopolitics.

Pertemuan para pemimpin Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Vladivostok baru saja berakhir.Apakah arti strategis dari sisi tata  kelola ekonomi politik internasional dan pelajaran bagi Indonesia?

  Sering kita tak menyadari bahwa tata kelola ekonomi politik dan hukum dunia ternyata begitu dekat dan berkait erat dengan tata kelola ekonomi politik dan hukum domestik. Artinya, perkembangan yang terjadi di tataran global akan sangat memengaruhi gerak langkah kita di tataran domestik. Biasanya, pengaruh perkembangan global ke domestik atau lokal cenderung lebih kuat dibanding sebaliknya dari domestik ke global.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe meluncurkan serangkaian program pemulihan ekonomi yang dikenal dengan Abenomics sejak terpilih pada akhir tahun lalu. Abenomics pada dasarnya terdiri dari tiga pilar yaitu stimulus fiskal, mengurangi persoalan moneter, dan strategi pertumbuhan. Setelah sekitar satu tahun berjalan bagaimana kita mencermati Abenomics dari sisi ekonomi politik Internasional?

Dua peristiwa penting terjadi hampir bersamaan di dua ranah yang berbeda belakangan ini. Di tataran domestik, prosesi pemilihan umum (pemilu) telah bergulir. Diantaranya, ditandai dengan penyampaian Daftar Calon Sementara (DCS) anggota legislatif. Kurang dari satu tahun dari sekarang pemilu akan diselenggarakan. Tahun 2014 akan penuh dengan hingar bingar politik domestik.

Kita telah menginjak tahun 2011. Seperti sebelumnya, sebuah tahun telah berganti. Masa telah beranjak dari 2010. Wajah adanya bila kita memanfaatkan momentum ini untuk melihat ke belakang sebentar demi menjangkau ke depan yang lebih baik. Bagi dunia pendidikan, baca: perguruan tinggi, tahun 2010 penuh dengan ketidakjelasan arah dan tujuan. Sebagai PT BHMN, ketujuh PT BHMN termasuk almamater kita tercinta telah dicabut samurainya. UU BHP dinyatakan tidak berlaku oleh Mahkamah Konstitusi setelah memenuhi tuntutan judicial review dari kalangan masyarakat sipil dan sebagian penggiat pendidikan di Indonesia. Masih terjadi polemik atas status hukum PT BHMN: ada yang bilang jalan terus, masuk masa transisi, hingga pendapat yang menyatakan PT BHMN tidak ada status hukumnya. Semua seperti tidak merasa terjadi apa-apa dengan persoalan ini. Mungkin juga sudah biasa mengarungi banyaknya ketidakpastian. Toh masalah lain yang lebih besar dari bangsa ini pun tetap tak tersentuh secara substansi, alih-alih memperbaiki. PP 66/2010 telah terbit. Paling tidak memberikan sedikit kejelasan status hukum mantan PT BHMN. Walaupun, bukan berarti masalahnya selesai. Ini jelas setback dalam perjalanan pendidikan bangsa kita. Tapi itulah kenyataannya, suka atau tidak suka harus diterima, ada yang menjadi korban dari carut-marutnya persoalan ini. Tidak hanya civitas akademika, tapi juga generasi bangsa ini. Kita tidak cukup jantan untuk mengakui ketidakmampuan negara menyediakan dana, infrastruktur pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan tinggi yang baik, transparan dan akuntabel. Eksperimen independensi dan otonomi dalam format PT BHMN, sebuah breakthrough tata kelola perguruan tinggi, telah mati muda. Kita mungkin tidak siap untuk berubah apalagi melakukan inovasi. Pikiran dan tindakan kita masih terkungkung dalam kotak paranoida perubahan demi zona kemapanan yang halusinatif. Tahun 2011 menapaki lembaran kalender baru. Rutinitas kita mengajar, meneliti, mengabdi kepada masyarakat (padahal mengajar, meneliti, mendidik pun termasuk mengabdi masyarakat, ya…), telah menanti. Seolah tak ada yang berubah. Di permukaan terlihat seperti biasa saja. Padahal bom waktu ketidakpuasan seperti tinggal menunggu pemantiknya saja. Diantara begitu banyak soal adalah kepastian status kepegawaian pasca PP 66/2010. Tentu konsekuensinya luas, termasuk pada sistem remunerasi, kompensasi dan manfaat pegawai. Memang selalu ada peluang di tengah turbulensi ketidakpastian. Langkah strategis konkret demi civitas akademika yang terukur, terencana dan mampu dilaksanakan secara nyata adalah pembeda yang diharapkan muncul di garda terdepan. Bukan sebuah retorika yang kenyang kita makan dari sajian media massa menggambarkan tingkah polah petinggi negeri ini yang tanpa hati nurani. Akhirnya, tahun 2011 ini akan jadi penentu akankah mantan PT BHMN yang berevolusi menjadi BLU akan menjadi harapan atau justru menjelma menjadi mimpi buruk yang baru. Tentu lah hal pertama yang kita harapkan. Oleh karena itu, tunjukkanlah sepak terjang konkretmu para pemimpinku. Tidak ada seorang pun dari kita menginginkan hal kedua terjadi. Kita memang tidak boleh menyerah, tapi kita pun punya keterbatasan untuk akhirnya harus menentukan langkah terbaik. Selamat datang 2011, kobarkan harapan baru bukan mimpi buruk baru. Semoga!