Perkembangan dunia yang semakin dinamis menghadirkan tantangan baru di berbagai bidang, mulai dari teknologi, ekonomi, politik, hukum, hingga pendidikan. Menyikapi kondisi tersebut, Dewan Guru Besar BINUS University menegaskan komitmennya untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan melalui berbagai gagasan strategis yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia dan dunia.
Komitmen tersebut disampaikan dalam forum strategis yang menjadi bagian dari peringatan Dies Natalis BINUS University. Melalui forum ini, para Guru Besar dari beragam disiplin ilmu menyampaikan pandangan akademis sekaligus rekomendasi berbasis riset terhadap berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat. Langkah tersebut menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab lebih luas daripada sekadar mencetak lulusan berkualitas.
Ketua Dewan Guru Besar BINUS University, Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, M.M., mengatakan bahwa keberadaan Dewan Guru Besar merupakan kekuatan intelektual yang tidak hanya berperan dalam mengembangkan dunia akademik, tetapi juga menjadi suara moral dan ilmiah dalam merespons persoalan bangsa. Menurutnya, pemikiran akademik harus mampu diterjemahkan menjadi solusi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Harjanto menegaskan, visi BINUS 2035 sebagai A World-class University, Fostering and Empowering the Society in Building and Serving the Nation menjadi landasan utama dalam setiap langkah institusi. Melalui visi tersebut, BINUS University berupaya menghadirkan kontribusi nyata melalui pendidikan, penelitian, inovasi, hingga pendampingan masyarakat agar mampu menghadapi perubahan global secara berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, sejumlah Guru Besar memaparkan berbagai isu strategis sesuai bidang keahliannya. Prof. Derwin Suhartono menyoroti pentingnya kebijakan nasional yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital yang bergerak sangat cepat. Ia menilai kemampuan pemerintah dalam merespons inovasi digital menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing Indonesia di tengah era transformasi teknologi.
Sementara itu, Prof. Yanthi Rumbina Ianova Hutagaol menekankan bahwa transformasi digital pada sektor ekonomi, khususnya pelaku UMKM, harus dibangun di atas prinsip etika, integritas, dan transparansi. Menurutnya, keberhasilan digitalisasi tidak hanya diukur dari kemampuan mengadopsi teknologi, tetapi juga dari kemampuan menjaga kepercayaan publik serta nilai keadilan sosial dalam menjalankan aktivitas bisnis.
Pandangan lain datang dari Prof. Shidarta yang menyoroti dinamika politik dan hukum di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa penegakan hukum tidak cukup hanya mengandalkan regulasi yang baik, melainkan juga membutuhkan integritas aparat, pendidikan etika hukum, serta partisipasi aktif masyarakat dalam mengawal proses demokrasi dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
Di bidang ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat, Prof. Nesti F. Sianipar mengingatkan pentingnya inovasi untuk menjawab tantangan lintas generasi. Menurutnya, riset di bidang pangan, kesehatan, dan keberlanjutan menjadi fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang tangguh menghadapi perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, maupun ancaman krisis global yang semakin kompleks.
Sementara itu, Prof. Sasmoko mengangkat pentingnya revolusi pendidikan yang didukung kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia menegaskan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai mitra strategis bagi pendidik dalam menciptakan pembelajaran yang lebih personal, adaptif, dan mampu membentuk karakter generasi emas Indonesia pada tahun 2045, bukan sebagai pengganti peran guru.
Melengkapi berbagai pandangan tersebut, Prof. Gatot Soepriyanto mengulas fenomena tingginya angka kegagalan startup di Indonesia. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan literasi keuangan, penguatan tata kelola perusahaan, serta regulasi yang mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan publik dan ruang inovasi bagi pelaku usaha.
Melalui forum lintas disiplin tersebut, Dewan Guru Besar BINUS University ingin menunjukkan bahwa dunia saat ini membutuhkan lebih dari sekadar diskusi akademik. Tantangan global memerlukan solusi konkret yang lahir dari kolaborasi berbagai bidang ilmu, didukung riset yang kuat, serta keberanian menghadirkan rekomendasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Kontribusi Dewan Guru Besar BINUS University sekaligus mempertegas posisi perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menyusun arah pembangunan bangsa. Dengan menggabungkan kekuatan pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat, BINUS berharap mampu terus menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan nasional maupun global yang terus berkembang.***
sumber : PikiranRakyat.Com
