The auditorium of Bina Nusantara University’s Anggrek campus were decked to the gills as lecturers and other eminent academics from the university welcomed a new member into their ranks.

Led by Professor Harjanto and Bina Nusantara chief executive Bernard Gunawan, the academics congratulated newly elevated professor Tirta Nugraha Mursitama, the chairman of the School of Social and Political Sciences’ International Relations Department, for attaining the academic pinnacle. Tirta affirmed his place as the man of the hour with his speech on the Indonesian “state and market in the global era: [Using] business diplomacy to face the Asean Economic Community in 2015.”

Six months after taking office, Indonesian President Joko Widodo is starting to step away from his predecessor’s foreign policy of keeping everyone happy. Widodo, known as Jokowi, criticized the United Nations and International Monetary Fund at this week’s Asian African Conference in Jakarta. He’s pledged to increase defense spending, ordered foreign boats seized for illegal fishing to be destroyed, and declined to pardon two Australian drug smugglers facing a firing squad, leading to warnings of damaged ties.

Hari ini Rabu (22/4) BINUS UNIVERSITY dipenuhi dengan rasa sukacita dan bangga yang besar karena dikukuhkannya seorang Guru Besar di BINUS UNIVERSITY. Sosok yang mendatangkan suka cita itu adalah Prof. Tirta Nugraha Mursitama, S.Sos., M.M., Ph.D. Hari ini Prof. Tirta akan dikukuhkan dihadapan senat perguruan tinggi BINUS UNIVERSITY dan tamu-tamu undangan dari dalam dan luar negeri, di auditorium Kampus Anggrek BINUS UNIVERSITY.

Terlepas dari berbagai isu politik yang ada di Indonesia, kita sudah selayaknya bangga menjadi warga negara Indonesia. Dengan segala kekayaan yang Indonesia miliki, mulai dari kekayaan bahasa, budaya, hasil bumi, tambang, hingga sumber daya manusianya yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama beberapa tahun belakangan ini. Indonesia berhasil menempati posisi 16 besar dalam Group of Twenty (G-20). G-20 adalah kelompok 19 negara dengan perekonomian terbesar di dunia ditambah dengan Uni Eropa. Indonesia merupakan satu-satunya negara ASEAN yang masuk ke dalam G-20, dan dapat dimasukkan dalam kelompok menengah di dalamnya bersama dengan negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Korea Selatan dan Jepang.

​Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Jakarta, Dina Wisnu mengatakan, dalam hubungan diplomasi ada hal-hal tertentu yang tidak perlu dipublikasi, termasuk di antaranya keputusan eksekusi mati terhadap narapidana kasus penyalahgunaan narkoba oleh pemerintah Indonesia terhadap sejumlah warga negara asing. Hal tersebut disampaikannya usai diskusi di Jakarta, Sabtu (7/3).

“Globalisasi merupakan fenomena yang tak terhindarkan saat ini termasuk di dunia bisnis global. Oleh karena itu, tantangan bangsa Indonesia termasuk para generasi muda saat ini bagaimana kita mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari fenomena ini”. Demikianlah antara lain pesan dari kuliah tamu (Guest Lecture) yang disampaikan oleh Dr. Dionisius Nardjoko Economist of Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dan juga pendiri Presisi Indonesia.

[soundcloud url="https://api.soundcloud.com/tracks/144516089" params="auto_play=false&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false&visual=true" width="100%" height="450" iframe="true" /] Musik Mimpi Kita