“Globalisasi merupakan fenomena yang tak terhindarkan saat ini termasuk di dunia bisnis global. Oleh karena itu, tantangan bangsa Indonesia termasuk para generasi muda saat ini bagaimana kita mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari fenomena ini”. Demikianlah antara lain pesan dari kuliah tamu (Guest Lecture) yang disampaikan oleh Dr. Dionisius Nardjoko Economist of Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dan juga pendiri Presisi Indonesia.

[soundcloud url="https://api.soundcloud.com/tracks/144516089" params="auto_play=false&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false&visual=true" width="100%" height="450" iframe="true" /] Musik Mimpi Kita

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas terselenggaranya Konvensi Nasional (Vennas) V Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) di Universitas Budi Luhur Jakarta pada tanggal 25-28 November 2014. Tanpa terasa perjalanan AIHII sebagai satu-satunya asosiasi yang menaungi program studi (prodi) Hubungan Internasional dan para staf pengajar/peneliti/pemerhati Hubungan Internasional Indonesia telah melewati lebih dari lima tahun. Dalam kurun waktu ini, AIHII masih terus tumbuh dalam tahapan meletakkan landasan sebagai organisasi modern yang dikelola secara profesional.

Ketua Departemen Hubungan Internasional Fakultas Humaniora Universitas Bina Nusantara, Tirta N. Mursitama, PhD, menjadi visiting scholar di College of Economics and Management, Fujian Normal University, Tiongkok sejak tanggal 5 – 12 November 2014. Kegiatan ini disponsori oleh Confusius Institute Jakarta bekerjasama dengan Fujian Normal University (FNU).

Saat ini sedang berlangsung perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada 10-11 November 2014 di Beijing, China. Semua mata dunia tertuju pada acara ini yang akan turut menentukan 45% perdagangan dunia dan mempertaruhkan nama besar China pada dunia. KTT ini layak mendapat perhatian karena dinamika hubungan internasional di regional dan global belakangan ini terutama yang melibatkan peran strategis China. Pertama, langkah China memprakarsai berdirinya Bank Investasi Infrastruktur Asia dan siap menggelontorkan dana USD50 triliun.

Menteri luar negeri (menlu) yang baru, Retno LP Marsudi, diharapkan dapat mengembangkan poros maritim dunia sesuai fokus utama program presiden Joko Widodo (Jokowi). Fokus ini disebutkan pengamat hubungan luar negeri, Tirta N Mursitama, dapat menjadi keunggulan kompetitif Indonesia di mata dunia. “Diplomasi maritim dunia ini tidak hanya dapat dimaknai secara politis, tapi juga secara ekonomis. Ini seharusnya dapat dikembangkan lebih lagi,” kata Tirta N Mursitama saat dihubungi SH, Senin (27/10).

Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) resmi menjadi nahkoda bangsa Indonesia lima tahun ke depan pada 20 Oktober 2014 lalu. Pelantikan Jokowi-JK menjadi sebuah fenomena tersendiri dalam sejarah Indonesia. Kehadiran para tamu dari negara sahabat yang sebagian hadir dengan sukarela dan sambutan publik domestik yang hangat dan juga secara sukarela menjadi saksi sejarah perjalanan kehidupan demokrasi Indonesia.

Sejumlah dosen BINUS, atas nama pribadi masing-masing (tidak secara resmi mewakili institusi) merasa terpanggil untuk ikut menyuarakan seruan moral kepada pemimpin negeri ini. Dari Program Studi Business Law BINUS, tercatat nama Dr. Shidarta dan Besar, S.H., M.H. Sementara itu juga terdapat nama Dekan Fakultas Humaniora BINUS Dr. Johannes A.A. Rumeser dan Guru Besar Prof. A. Dahana. Di luar itu juga tercantum nama Dr. Tirta Nugraha Mursitama, Dr. Johannes Herlijanto, dan Dr. Yosef Dedy Pradipto. Beberapa dosen BINUS lainnya yang ikut serta dalam seruan ini berasal dari fakultas/jurusan lain di luar Fakultas Humaniora.

Hubungan bilateral antara Indonesia – Amerika Serikat selalu menjadi sorotan dalam kajian politik internasional di Indonesia. Hal tersebut selalu menjadi pertanyaan besar dalam pemerintahan Jokowi pada lima tahun ke depan. Hubungan kedua negara besar itu, menjadi perhatian Dr. Satu P. Limaye, Direktur East-West Center, Washington DC, dalam diskusi Kijang Initiatives Forum yang digagas Departemen Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara bekerja sama dengan Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia, di kampus Syahdan Bina Nusantara, Jakarta, (28/8/2014).