2
Aug
2014
0

Treble Disaster dan Momentum Kebangkitan Jepang

Dunia baru saja dikejutkan oleh tragedi gempa dan tsunami dahsyat di Jepang, Jumat minggu lalu. Gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter meluluhlantakkan wilayah Tohoku yang antara lain meliputi prefektur (di Indonesia seperti kabupaten) Iwate, Miyagi, dan Fukushima.

Gelombang Tsunami setinggi 10 meter pun menghempaskan semua yang di hadapannya di sepanjang pantai timur laut Jepang. Keadaan dan situasi semakin buruk ketika terjadi ledakan pada pembangkit tenaga nuklir Fukushima Daiichi akibat gempa. Karena itu, apa yang dialami Jepang, penulis sebut, sebagai “treble disaster” yaitu tiga bencana yang datang bersamaan dengan konsekuensi tersendiri yang membentuk kompleksitas masalah yang multidimensi dan geografis. Pertama, Jepang mengalami bencana alam berupa gempa dan tsunami.

Suatu tragedi force majeure yang tak bisa dihindarkan oleh umat manusia. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat Jepang, tetapi juga negara sekitarnya bahkan dunia dengan tingkat yang berbeda. Kedua, Jepang mengalami bencana kemanusiaan dengan korban tewas, hilang, luka-luka, dan pengungsian. Ini berarti semakin mengurangi jumlah penduduk Jepang yang sedang dalam kondisi ageing society (masyarakat yang struktur penduduknya mayoritas lanjut usia).

Ketiga, bencana ilmu pengetahuan dan teknologi berupa meledaknya reaktor nuklir Fukushima Daiichi. Tragedi ketiga inilah yang semakin menambah dimensi yang lebih mencekam, berbahaya, dan mengkhawatirkan karena berpotensi menjalar ke wilayah lain bila tingkat kandungan radioaktif yang menyebar semakin tinggi, bahkan mencapai negara-negara tetangga terdekat Jepang.

Dampak yang Masif

Dalam jangka pendek dampak ketiga bencana tersebut adalah negatif. Penduduk tewas diperkirakan sudah lebih dari 3.700 orang (16/3), 10.000 orang hilang, dan ribuan diungsikan karena kehilangan tempat tinggal. Angka ini berpotensi terus bertambah. Melihat perkembangan korban baik jiwa dan materiil, bisa jadi gempa dan tsunami ini merupakan tragedi terburuk sejak Perang Dunia Kedua.

Walau tidak mudah memprediksi kerugian material, selain belum ada angka resmi dari pemerintah yang masih menghitung, taksiran kerugian mencapai lebih dari USD180 miliar hanya di daerah yang tertimpa gempa dan sekitarnya. Jumlah itu dipastikan akan terus bertambah bila memasukkan kerugian ekonomisnya. Angka ini sudah jauh melebihi kerugian gempa Kobe, 17 Januari 1995 yang berskala jauh lebih kecil yaitu 7,3 Skala Richter dengan kerugian mencapai USD100 miliar.

Wilayah Tohoku sebagian besar merupakan wilayah pertanian dan perikanan di daerah pinggiran pantai disertai industri pengolahan hasil laut seperti udang dan ikan. Dengan demikian, yang paling menderita adalah para nelayan dan para pekerja di pabrik-pabrik yang mengolah produk-produk turunan dari hasil laut. Di wilayah tersebut terdapat juga pabrik mobil, semikonduktor, dan komponen. Namun, Tohoku bukan termasuk daerah aglomerasi industri seperti di Jepang bagian barat dan selatan.

Industri manufaktur tergolong minim karena cakupannya hanya 2% dari total ekonomi Jepang. Dengan demikian, dampak terhadap perekonomian secara keseluruhan diperkirakan tidak terlalu besar. Sektor keuangan pun berkontraksi. Jumat lalu dilaporkan GDP Jepang berkurang 0,1- 0,2%,bila dihitung sampai 2011 berarti akan berpotensi mengurangi GDP Jepang sebanyak 1,3%. Indeks Nikkei sempat turun 10,55% ke angka 8,605 menembus batas psikologis 9,000.

Indeks ini terendah selama dua tahun terakhir. Kebanyakan saham-saham perusahaan, elektronika, otomotif, minyak, dan gas yang berjatuhan. Walaupun pada 16 Maret pagi Indeks Nikkei 225 tersebut sudah terkoreksi dan mulai menguat menjadi 9,168.51. Kekhawatiran berkurangnya likuiditas pasar pun muncul diakibatkan para investor baik swasta maupun pemerintah akan menarik uangnya dan dialihkan untuk rekonstruksi gempa. Merespons hal ini, Bank of Japan (BoJ) berusaha menggaransi kestabilan pasar dan membangkitkan kepercayaan pasar dari kepanikan akibat tiga tragedi ini.

Bank Sentral Jepang sampai hari ini telah menggelontorkan lebih dari 45 triliun yen. Dampak dari ketidakmampuan ilmu pengetahuan dan teknologi menghadapi gempa dan tsunami berskala besar terbukti pada kasus meledaknya reaktor nuklir Fukushima Daiichi. Walaupun telah diupayakan pendinginan reaktor dengan memompakan air laut, dampak ledakan berupa tingkat kandungan radioaktif telah mencapai 8.200 microsieverts di sekitar reaktor. Kandungan ini 8-10 kali melebihi ambang batas normal manusia dapat terkena radioaktif dalam setahun.

Imbasnya pun bisa terasakan hingga tiga tahun. Kabar terakhir bahkan menyebutkan ambang efek radioaktif di Tokyo telah melebihi 20% di atas rata-rata. Sedangkan dari dimensi regional maupun internasional, gangguan terbesar adalah pada rantai pasokan distribusi komponen untuk industri. Beberapa komponen elektronik, semikonduktor, maupun otomotif dari Jepang akan terhambat akibat penutupan atau penundaan produksi beberapa pabrikan. Hal ini jelas akan berimbas pada penurunan output paling tidak dalam jangka pendek.

Negara-negara di dunia pun sigap mengulurkan tangan memberikan bantuan. Pertemuan G-8 di Prancis telah berkomitmen membantu Jepang secara maksimal. China, seteru ekonomi dan politik regional Jepang, pun dengan cepat telah mengirimkan bantuan uang, bahan makanan, maupun relawan. Bagi Indonesia, aktivitas ekspor impor akan sedikit terganggu dalam jangka pendek. Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah komitmen investasi Jepang jangka panjang.

Proyek Metropolitan Priority Area yakni pembangunan infrastruktur Ibu Kota dan sekitarnya terancam dihentikan atau paling tidak mengalami penundaan. Bagaimanapun Jepang akan memberikan prioritas fokus rekonstruksi kondisi domestik dengan memberikan hak sepadan bagi warga negaranya pembayar pajak yang setia terlebih dahulu.

Seperti tecermin dari kutipan seorang profesor strategi dari Gakushuin University Tokyo, Shigeru Asaba di awal tulisan ini yang disampaikan langsung kepada penulis, rasa keoptimisan dan tekad membaja untuk bangkit telah terpatri di sanubari tiap manusia Jepang. Mereka telah siap untuk berjuang bangkit kembali. Di sinilah kepemimpinan Perdana Menteri Naota Kan diuji mewujudkan kembali kedigdayaan negeri matahari terbit ini.?

TIRTA N MURSITAMA PHD
Direktur Eksekutif Center for East Asian
Cooperation Studies Universitas Indonesia,
Alumnus Gakushuin University, Tokyo, Jepang

Artikel ini dimuat di Harian Seputar Indonesia, Kamis 17 Maret 2011

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/387605/

0

Leave a Reply