2
Aug
2014
0

Political Reality Show Kabinet SBY Jilid II

Setelah kita menyaksikan rangkaian political reality show pilihan presiden hingga proses pembentukan kabinet yang semakin intens beberapa hari belakangan ini, akhirnya SBY mengumumkan Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB II) tanggal 22 Oktober 2009 malam. Jalan panjang belajar mempraktikkan sendi demokrasi dengan intepretasi lokalitas Indonesia yang sangat kental, telah usai.

Fit and proper test calon menteri yang dilakukan cenderung hanya bersifat seolah-olah karena sebenarnya bukan merupakan ujian kepatutan maupun kelayakan yang sesungguhnya. Melainkan, yang terjadi adalah proses konfirmasi, pemberian tugas-tugas dan ukuran kinerja, pertanyaan akan kesanggupan bekerja hingga penandatangan pakta integritas. Ditambah lagi, pemanggilan kandidat calon menteri untuk satu posisi hanya satu orang saja. Sebagian besar yang dipanggil menempati posisi yang disiratkan sebelumnya oleh para kandidat ketika melakukan konferensi pers paska dipanggil Cikeas.

Tes kesehatan dan uji kejiwaan ternyata hanya “menggugurkan” seorang kandidat calon menteri yang  telah dipanggil sebelumnya ke Cikeas. Hal ini terbukti dengan hanya berubahnya satu nama baru yang masuk ke dalam KIB II dalam pos kementerian kesehatan yang baru menjalani fit and proper test hari Rabu siang, hanya beberapa jam sebelum diumumkan susunan kabinet secara resmi malamnya.

Itulah taste demokrasi ala Indonesia. Tidak ada yang salah karena ini soal gaya. Ini potret tingkah laku berdemokrasi bangsa kita. Tidak meng-copy mentah-mentah kampium demokrasi AS misalnya. Saya bukan ahli politik, tetapi mungkin bisa dikatakan ini sebagai bentuk akulturasi demokrasi.

Kita juga bisa melihat bagaimana media menyuguhkan tayangan ini dengan penuh pesona. Mereka berusaha menyihir rakyat dengan membumbui rangkaian ini dengan talkshow dari para pengamat hingga akademisi, survey, komentar tokoh dan masyarakat awam hingga sajian-sajian sumber sekunder lain sehingga enak disantap di meja pemirsa. Sungguh show ini sudah menjadi bukti bekerjanya ideologi pasar, sebuah kelindan antara kapital dan politik yang disukai rakyat (baca: konstituen). Semua senang, semua gembira, bersorak horai.

Suka atau tidak suka, proses ini berjalan dengan relatif lancar. Dunia internasional pun melihatnya dalam kacamata yang cenderung positif. Bahwa Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, telah dapat mempraktikkan sendi-sendi demokrasi dengan relatif baik. Dengan bumbu Indonesia.

Masih ada kelemahan, tentu tak dipungkiri. Justru itulah yang menjadi benang merah tulisan ini: political reality show dengan bumbu Indonesia asli. Proses berdemokrasi berjalan relatif baik karena harus diakui bahwa proses ini semua adalah bentuk inovasi politik oleh SBY. Tentu dia tidak sendirian menggodok ini. Tetapi yang jelas, disini SBY berhasil menjadi sutradara, penulis cerita, merangkap menjadi aktor utama, mungkin juga produsernya.

Selamat bertugas mengemban amanah Pak SBY Boediono dan para menteri! Asa kami ada di pundak Anda sekalian. Kami tidak diam, kami tidak bisu dan tidak tuli. Tetapi sebagai wujud sumbangan kami dalam berkehidupan kebangsaan yang bermartabat, kami berikan kesempatan Anda untuk membuktikan dalam 100 hari dan 1 tahun kepemimpinan Anda. Kami duduk disini, menikmati pisang goreng dan teh manis panas dengan tetap kritis mengawasi sepak terjang Anda sekalian.Wallahu alam bishowab. [Tirta N Mursitama/foto:istimewa]

 

0

Leave a Reply