2
Aug
2014
0

I-4: Ikatan Ilmuwan Indonesia (di) Indonesia

“Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, demi menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta untuk kepentingan kemajuan bangsa dan negara Indonesia, maka dengan ini kami mendeklarasikan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional yang disingkat I-4,” demikian kutipan deklarasi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) pada tanggal 5 Juli 2009 di Deen Hag, Belanda (Kompas, 6 Juli 2009). Sebagai tindak lanjut, pada tanggal 24 Oktober 2009 yang baru lalu Mendiknas M Nuh didampingi Dirjen Dikti Fasli Jalal meresmikan terbentuknya I-4 tersebut.

Terbentuknya I-4 merupakan sebuah angin segar. Apalagi dengan diakuinya secara formal keberadaan organisasi yang menyatukan para ilmuwan negeri ini yang sedang berada di luar negeri, baik untuk sementara atau pun seterusnya. Pengakuan ini merupakan sebuah kemajuan akan fenomena brain drain yang sedang (terus) terjadi. Di satu sisi negeri ini butuh talenta kelas dunia, tetapi di sisi lain penghargaan dan fasilitas yang dapat mewadahi gelinjang intelektual mereka tak terpenuhi di negeri ini.

Inisiatif para bran drainers yang ingin merubah kesan “negatif” karena harus berada di luar negara yang bernama Indonesia ini merupakan hal yang positif. Mereka ingin memberikan sumbangsih kepada ibu pertiwi secara kongkret. Ternyata hal tersebut bertemu dengan keinginan pemerintah untuk menggerakkan ilmu pengetahuan di dalam negeri dengan merubah paradigma “negatif” para brain drainers menjadi partner in mission untuk menggeliatkan kemajuan bangsa di segala bidang.

Mereka tidak lagi dipandang sebagai “penghianat” (maaf terminologi ini mungkin terlalu kasar, tapi saya tidak menemukan yang pas) karena “melancong” ke luar negeri sehingga menciptakan fenomena brain drain. Tetapi mereka justru dipandang sebagai penyumbang ilmu pengetahuan dan teknologi terkini dengan menumbuhkan fenomena brain gainers bagi bangsa ini.

Ini hal yang sangat positif. Memberikan kebebasan kepada warga negara untuk memenuhi keingintahuannya dengan mengembangkan diri di luar negeri, terutama negara maju, yang memiliki infrastruktur akademik, bisnis, ekonomi dan politik yang lebih baik dari negeri ini. Bagian dari HAM katanya.

Pemerintah mungkin baru sadar diri melakukan langkah ini ketika negara lain seperti Cina dan India telah memberikan contoh terdepan dalam menjadikan para brain drainers mereka menjadi brain gainers sejati. Para perantau Cina dan India dapat kita jumpai di belahan bumi mana pun dalam profesi apa pun. Mereka mampu bersaing dan menunjukkan talenta mereka.

Beberapa tahun terakhir, pemerintah Cina menggalakkan gerakan pulang kampung bagi para warganya yang telah malang melintang di negeri orang. Mereka diberikan insentif penelitian dengan dana yang besar dan diberikan keleluasaan untuk mengembangkan keahliannya di negara asalnya. Bila kita cermati perilaku para kaum profesional India, setelah mereka berhasil tidak pernah lupa mengajak kolaborasi teman-teman mereka yang masih berada di tanah air. Dengan sendirinya efek spillover terjadi, transfer teknologi pun terfasilitasi. Belum lagi soal berapa besar dana yang mengalir ke negeri demokrasi terbesar di dunia itu.

Nah, dalam konteks ini Indonesia dalam arah yang benar. Tidak lagi “memusuhi” para brain drainers merupakan pilihan cerdas karena mereka juga butuh aktualisasi dan hidup secara profesional serta nyaman bersama keluarga mereka sesuai ukuran meraka. Tak ada gunanya pula berhadapan dengan orang cerdas dan pintar itu. Dengan mengajak berkolaborasi, merangkul mereka akan memberikan kontribusi yang lebih baik bagi negeri. Toh mereka tak kan pernah lupa tanah airnya. Suatu saat pasti (sesekali) kembali.

Tentu masih sangat prematur untuk memuja-muji keberadaan I-4. Kini saatnya para brain drainers membuktikan bahwa akan menjadi brain gainers bagi ibu pertiwi. Jauh dari sebuah kepentingan politis maupun bentuk kooptasi pemerintah bahkan ritual historis semata agar mendapat penghargaan pimpinan tertinggi negeri ini, setelah itu mati. Apabila hal terakhir ini yang terjadi, maka tak ubahnya organisasi-organisasi yang terkorporasi oleh kepentingan negara. Secara pribadi, paling tidak untuk saat ini, saya masih optimis dan mendukung keberadaan I-4 ini. Selamat berjuang kawan! Jangan lupa gandeng tangan kami, ajak berbagi, kalau dipandang perlu kami pun bisa diajak “pergi” :)

Akhirnya, bagaimana dengan ilmuwan di negeri ini? Sebagai sebuah sentilan bagi ilmuwan yang di tanah air agar terus berkiprah, pantang menyerah dan senantiasa berjuang mendapatkan perhatian pemerintah yang sewajarnya, dengan gaya anekdotikal saya mengartikan I-4 juga sebagai = Ikatan Ilmuwan Indonesia (di) Indonesia? Apakabar rekan semua? Mari bekerja lebih keras ilmuwan Indonesia!

0

You may also like

Mengapa WNI kerap dijadikan sasaran penculikan Abu Sayyaf?
RI Turns to Russia for Weaponry
RI Diserukan tetap Libatkan Kelompok Informal Soal Sandera
Diplomasi Investasi, Bila Poros Bergeser Ke China
Masyarakat ASEAN Belum Berbaur Jelang MEA

Leave a Reply